Bekal Untuk Cinta
April 20, 2011
dewira
Setelah baca bagian akhir tulisan Om Iyan di blognya yang judulnya Bekal, aku jadi terharu sekaligus tergerak nulis tentang bekal juga.
Kalo Om Iyan dijuluki sebagai SS (suami sehat) di kantor aku juga mendapat julukan yang identik karena terlalu memperhatikan kesehatan. Jadi mendapat olok-olokan dari teman dan atasan di kantor itu udah biasa. Misalnya, menu sarapan dan suamiku yang paling sering adalah oatmeal. Maka temanku menyelutuk, “Makanan burung kok dimakan Mba?”
Atau sewaktu makan buah yang didinginkan dengan es balok yang sebenarnya untuk mengawetkan ikan, dan tidak layak makan karena dari satu acara investigasi di tv nasional yang menelusuri asal usul air yang jadi bahan utama pembuat es balok adalah air yang jauh dari kategori higienis. Kalo di daerah jabodetabek air itu berasal dari kali Ciliwung yang dijernihkan dengan beberapa bahan kimia, kemudian setelah jernih baru dibekukan. Penelitian hasil lab juga mendukung, bahwa es balok tersebut banyak mengandung kuman yang berasal dari maaf…kotoran manusia. Jadi sebelum dimakan buah itu kucuci terlebih dahulu. Dan melihat itu orang-orang disekitar yang tidak mengerti alasannya mengeluarkan komentar yang yah..katakanlah sedikit mengejek atau sinis. “Ya ampunn segitunya..”
Kembali ke masalah bekal. Masih kaitannya dengan kesehatan maka aku berkomitmen untuk membuat bekal untukku dan suami setiap harinya. Tapi ga setiap hari juga sih, kalau lagi malas masak (tapi ini jarang loh
) atau ga ada bahan untuk dimasak karena ga sempat belanja, kita makan di luar.
Alasannya tentu sehat dan hemat. Bayangkan sebelum dimasak bahan makanan di ozonisasi dulu untuk menghilangkan kandungan zat kimia dan bakteri berbahaya. Cara memasak dengan menggoreng pun sebisa mungkin dihindari. Untuk minyak juga ada aturannya sendiri. Di rumah ada 3 macam minyak untuk keperluan memasak. Pertama minyak zaitun, canola, dan terakhir minyak sawit. Minyak zaitun dan canola di pakai lebih sering untuk tumis dan menggoreng masakan yang tidak perlu banyak minyak misalnya telur, sedangkan minyak sawit jarang digunakan dan biasanya hanya untuk menggoreng yang butuh banyak minyak seperti, menggoreng ayam. Dan cara menggoreng makanan yang mengandung karbohidrat, bakwan misalnya, juga punya teknik tersendiri. Jadi ga mungkinkan standar memasakku itu bisa dipenuhi warung makan, atau bahkan restoran sekalipun?
Dari awal menikah aku sudah mulai membawa bekal dari rumah. Mungkin karena masakanku belum sempurna atau suami yang tidak biasa makan masakan tanpa penyedap dia sering mengabaikan masakanku. Sebagai gantinya ia beli makan di luar atau tidak makan sama sekali. Tentu saja ulahnya itu membuatku tersinggung.
Bayangkan sebelum belanja aku sudah harus memikirkan menu apa yang akan dimasak dalam seminggu, lalu belanja dengan memilih bahan yang berkualitas yang tentu saja harganya lebih mahal, setelah itu bangun pagi-pagi setiap harinya, antara jam 4 sampai jam 5 pagi, lalu berjibaku sendiri di depan kompor. Jadi kalau suami tidak mau makan hanya karena tidak selera, hatiku sangat sedih sekaligus marah. Namun seiring berjalannya waktu hal itu bisa dibilang hampir (hampir loh ya) tak pernah terjadi lagi.
Ada kepuasan yang tak terkatakan jika setiap pagi bisa menyediakan sarapan dan menyiapkan bekal makan siang untuk suami tercinta. Apa lagi jika dia menyukainya. Jangan ditanya, rasanya ruarrr biasa.
By the way, mengenai paragraf terakhir di artikel Om Iyan di awal tulisan, paragraf yang membuat haru itu saya cuplik di sini, semoga saja si Om tidak keberatan.
Tak bisa membalas dengan hal lain, hanya kata terima kasih untuk kalian kaum perempuan yang senantiasa menyiapkan sarapan pagi untuk para suami ketika akan berangkat kerja.
Entry Filed under: Uncategorized
Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
Ajeng |
November 22, 2011 pukul 5:38 am
mbak suaminya pernah complain ga mengenai bekal lunch yg bakal sudah dingin saat mau dimakan?
2.
dewira |
November 29, 2011 pukul 3:51 am
kalo masalah itu ga pernah Mba Ajeng, paling kalo ga dimakan cuma karena kurang pas sama lauknya ajah
Terima kasih sudah berkunjung. salam kenal.