RESIGN
April 12, 2011
dewira
Kaitkata: latihan nulis
Setumpuk map berisi berkas-berkas “dibuang sayang” yang setiap hari semakin tinggi, teronggok di ujung meja. Diwi menyebutnya dibuang sayang karena sebenarnya kertas itu tak berguna lagi, tapi keadaannya masih baik, dan mungkin bisa berguna satu waktu. Sementara di meja lain yang ukurannya lebih kecil, yang letaknya membentuk huruf L dengan meja utama, amplop-amplop sejenis memenuhi box file dengan susunan yang berantakan. Diwi tak begitu mempedulikan ketidakrapihan di mejanya. Pandangangannya terpaku pada bebapa surat dengan status KILAT, surat-surat itu baru datang pagi tadi. Ia mendengus kesal seakan hendak mengeluarkan gumpalan besar di kerogkongannya.
Hari ini ia sudah minta ijin ke dokter dan kemarin sore atasannya sudah mengijinkannya tapi langsung berubah pikiran pagi tadi. Pak Harno, atasannya, meminta Diwi mengundurkan waktu janji temu dengan dokternya karena ada masalah yang harus diselesaikan hari itu juga.
“Ini Kilat Wi,” katanya , “ Urgent !!”
Ya. Pekerjaan itu memang penting dan urgent, tapi banyak orang selain dia yang bisa menyelesaikan tugas itu. Sedangkan janji temu dengan dokter juga penting dan urgent baginya. Jika hari ini dibatalkan maka baru bisa mengatur pertemuan pada bulan berikutnya. Karena dokter langganannya itu akan ke luar negri selama sebulan untuk mengikuti seminar.
Dengan wajah tertekuk yang sangat tidak enak untuk dilihat Diwi menuruti juga permintaan itu. Selama itu tak sedikitpun ia berbicara kepada siapapun. Menjadi orang yang dipercaya atasan tidak selalu menyenangkan dan mendatangkan keuntungan. Contohnya hari ini. Dan ini bukan kejadian yang pertama kali. Beberapa bulan sebelumnya Pak Harno tak mengijinkannya ikut pelatihan yang sejak lama ia incar. Pelatihan itu sangat berguna untuk peningkatan karirnya. Dengan beberapa terman kerja, ia sudah mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya, sayangnya karena pada saat yang bersamaan dengan diselenggarakannya pelatihan itu perusahaan kedatangan klien penting dan Pak Harno, memintanya untuk menemaninya bertemu tamu penting perusahaan itu. Sedangkan teman-temannya melenggang dengan santai meninggalkannya bersama setumpuk tugas rutin.
Ketergantungan pada apapun, kecuali pada Tuhan tentunya, tidak sehat. Dalam halnya, Pak Harno sudah terlalu tergantung pada hasil kerjanya. Alasannya hanya hasil kerja Diwi yang bisa memuaskan standar perfeksionisnya. Hampir semua proyek yang strategis diserahkan pada Diwi. Sedangkan ia tahu benar, banyak teman lain yang kekurangan pekerjaan.sebagian dari mereka mereka memakai kelebihan waktu kerjanya untuk bergosip atau main game, tapi bagi sebagian lain tidak begitu karena jarang diberi tanggung jawab yang berarti, mereka merasa tersisih. Bagi kelompok pertama, selama penghasilan mereka tak berkurang tak ada yang perlu dipermasalahkan bahkan bisa dibilang mereka menikmati keadaan itu. Tapi bagi kelompok kedua, tak bisa dielakkan, Kiki dianggap faktor yang membuat mereka tersisih dan secara tak sadar aroma kebencian mulai tercium dimana-mana.
Apresiasi dari Pah Harno itu memang melimpah. Bukan sekali dua lelaki tua dan galak itu memujinya di forum resmi yang membuat pipinya merona. tapi bersamaan dengan itu diam-diam pasukan sakit hari tersenyum sinis. Berbagai hadiah mahal yang diberikan padanya setiap Pak Harno berpergian ke luar negri bahkan bonus-bonus dari success fee Tapi semua keistimewaan itu punya harga yang mahal. Lembur yang tak kenal waktu hingga tak ada waktu yang terluang untuk menjalin hubungan serius dengan lawan jenis.
Beberapa tahun lalu, sebelum Pak Harno menjadi bosnya, hidupnya masih normal. Setiap minggu ia punya waktu untuk berkencan dengan Dion, kekasihnya. Tapi setelah Pak Harno menggantikan bos lamanya kehidupannya berubah drastis. Pertemuan dengan Dion hanya bisa dijadwalkan sebulan sekali itupun sering di cancel karena lembur mendadak. Perlahan namun pasti ia dan Dion menjauh sampai satu waktu kekasihnya itu berhenti menghubunginya. Dua atau tiga bulan setelahnya ia mendengar berita pertunangan Dion dengan wanita lain.
Hatinya benar-benar hancur saat itu dan untuk melupakan Dion ia mengalihkan seluruh energi dan pikirannya dengan kerja tak kenal waktu. Hingga pada satu titik ia merasa jenuh, lelah, dan putus asa jika memikirkan masa depannya.Ibunya di kampung selalu mengingatkannya untuk menikah. “Ingat umur Wi”, itu yang sering dikatakannya. Setiap mereka berbicara ibunya tak pernah ketinggalan mengabarkan keadaan teman-teman sekolahnya dulu. Si Tini dan punya anak dua, atau si Erna akan menikah bulan depan. Sayangnya ibu tak sadar berita-berita seperti itu membuatnya semakin tertekan.
Di lain hal, semakin lama ia semakin sesak nafas jika segala hal tergantung padanya hingga mengekspansi urusan pribadinya. Anehnya Pak Harno merasa wajar jika Diwi yang punya batas kemampuan diserahi tanggung jawab yang hampir tak bisa ditanganinya.
Tiba-tiba sesuatu terlilntas di pikirannya. Segera ia mencari file yang berminggu-minggu lalu pernah dibuatnya. File itu masih berupa draft kasar yang dibuat karena iseng saja. Tapi sekarang file itu mulai dianggapnya serius.
“Ini dia” gumamnya. Sebelum membuka ia menoleh ke sekitar, memastikan tak ada orang yang memperhatikannya. Merasa aman segera dibukanya dokumen yang bernama RESIGN.
Entry Filed under: Fiksi
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed