Just Pray For Me Please..
April 4, 2011
dewira
Kaitkata: anak, hamil
Siang ini aku chatting via Gtalk, dengan seorang teman lama. Seorang teman yang selalu menyapa dan menanyakan kabarku. Kadang aku malu juga karena hampir tak pernah menyapanya duluan.
Setelah berbasa-basi ia menceritakan tentang temannya yang sukses punya momongan karena melaksanakan anjuran dokternya, Aku tahu sekali bahwa dia bermaksud baik menanyakan perkembanganku dan menginfokan tips yang berhasil pada temannya dan mungkin maksudnya tips itu berhasil buatku juga. Mungkin ya tapi mungkin juga tidak. Karena tidak semua kasus sama.
Seperti halku misalnya, yang bermasalah pada saluran kedua tuba falopi. Jika di anjurkan berhubungan dengan frekuensi tertentu dan herbal penyubur apakah ada pengaruhnya? Sesubur apapun kalo saluran belum kebuka ya sama saja. Ada juga teman lama yang entah berapa kali menyarankan supaya aku berobat kepada ayahnya yang notabene orang pintar. Astaghfirullah.. aku tidak seputus asa itu untuk menempuh jalan yang tidak diridhoi-Nya.
Tapi ada hal lain yang sebenarnya agak mengganggu. Pertanyaan mengenai masalahku yang belum punya momongan, walau sehalus atau sesopan apapun pertanyaan itu disampaikan tetap saja membuat galau. Ya..ya.. mereka bermaksud baik. Itu pasti. Hanya saja maksud baik mereka itu memperburuk suasana hati. Membahas masalah yang sensitif kepada sembarang orang membuatku frustasi. Jangankan ditanya langsung melihat teman lain hamil saja aku sudah merasa tak enak hati. Dan bawaannya pengen pergi sejauh-jauhnya dari orang itu, hingga perutnya yang melendung hilang dari pandanganku.
Hasad a.k.a dengki menurut Imam Ghozali banyak bentuknya. Salah satu dari banyak cirinya itu adalah tidak senang orang lain mendapat nikmat yang juga diinginkannya. Persis seperti perasaanku melihat orang lain yang mendapat keturunan dengan mudahnya. Aku tak mau digolongkan manusia pendengki, hanya saja sisi manusiaku yang pragmatis belum mampu mengatasinya.
Dengki itu memang manusiawi., tak ada satupun manusia yang terbebas dari dengki. Tapi selama dengki itu tidak bertranformasi menjadi perbuatan atau ucapan yang menyakiti atau merugikan orang lain, maka kedengkian itu masih bisa dimaafkan. Setidaknya begitulah yang kubaca dalam sebuah hadist.
Ah, mungkin dibalik itu semua, perasaanku yang terlalu sensitive. But I’m boring to explain to many people about my issue. Just pray for me, pliss .
Entry Filed under: Uncategorized,Warna-Warni
Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
rini bee |
April 23, 2011 pukul 11:56 pm
Semoga diberi kemudahan dan kelancaran ya mba dewira.. dan semoga selalu sehat..
Maap ngga bisa sering kontak denganmu.. Semoga dirimu baik-baik saja ya..
*hugs*
2.
dewira |
Mei 2, 2011 pukul 4:09 am
Amin.. *hug and kiss*