Memoirs Of A Geisha
Maret 29, 2011
dewira
Aku sedang membaca buku Memoirs Of Geisha untuk yang ketiga atau keempat kalinya. Mungkin ada pertanyaan mengapa aku membaca buku yang sama sampai berkali-kali. Jawabannya karena buku itu sangat mempesona, baik dari segi materi maupun penyampaiannya. Setiap aku membaca ulang buku itu, aku masih saja terpukau dengan kisahnya.
Arthur Golden adalah seorang jenius yang membius pembacanya. Luar biasa cara penulisannya, sederhana tapi penuh dengan analogi yang indah. Ia menuliskan sebuah memoir seorang geisha bermata indah bernama Sayuri. Di bagian pengantar buku itu dikatakan bahwa kisah ini seperti biographi dengan kata lain ceritanya berdasarkan kisah nyata. Tapi di forum internet banyak yang meragukan kalau kisah itu benar-benar based on true story. Terlepas dari apakah nyata atau fiksi, bagiku kisah itu tetap sangat luar biasa.
Sebelumnya sejak lama telingaku akrab dengan judul novel ini, tapi perkenalan pertamaku saat menonton filmya dengan judul yang sama. Membaca novel dengan menonton film adalah hal yang berbeda. Banyak sekali hal-hal yang terdapat di novel tak bisa di terjemahkan dalam film dengan baik. Itulah mengapa seringkali kita merasa kecewa jika versi film gagal memberikan kesan sebaik cerita novelnya. Begitu juga dengan Memoir of Geisha. Walau sudah menyaksikan filmnya aku tetap tidak mengerti apa sebenarnya profesi geisha itu, juga tidak memahami tentang tradisinya yang luar biasa eksotik. Anggapanku geisha tetaplah seorang pelacur yang mempunya stutus sosial lebih tinggi dari pelacur biasa di mana kehidupannya hanya berkisar ranjang saja.
Setelah membaca novelnya aku baru mengerti anggapanku selama ini ternyata 80% SALAH. Kalau sudah pernah membaca novelnya pasti tahu apa yang kumaksudkan.
Geisha adalah seniman wanita. Profesi mereka menghibur tapi bukan menjual tubuh melainkan menjual kelihaian seni seperti menari dan memainkan shamisen (gitar Jepang). Kedudukan mereka menempati tempat yang terhormat dalam tradisi Jepang. Mereka tidak diperbolehkan berbuat seperti pelacur yang menyerahkan diri kepada sembarang orang yang bersedia membayarnya. Justru jika mereka melakukan hal yang demikian sama saja dengan membahayakan karirnya. Seperti kisah Hastsuoki yang di singgung sedikit dalam novel tersebut. Sebenarnya Hatsuoki tidak melakukan hal yang salah. Ia hanya menjadi korban kedengkian Hatsumomo, saudara seperguruannya. Hatsumomo menganggap Hatsuoki saingan berat, oleh karena itulah ia menyingkirkannya dengan cara keji. Dengan menyebarkan desas-desus kalau Hatsuoki berbuat tidak senonoh dengan seorang polisi muda. Sayangnya orang-orang termakan dengan isu itu. Reputasi Hatsuoki yang malang pun hancur dan karirnya sebagai geisha terpaksa berakhir.
Geisha hanya diperkenankan melakukan hubungan seksual dengan dua macam pria. Pertama pelanggan mizuake (orang yang membeli keperawanannya). Kedua adalah danna, semacam suami kontrak. Untuk menjaga reputasinya seorang Geisha kelas atas tidak akan memiliki banyak danna selama hidupnya. Ia hanya memiliki satu atau dua danna. Sedangkan geisha yang kelasnya lebih rendah tidak demikian. Ada juga praktek gelap yang yang dilakukan geisha kelas bawah yaitu praktek pelacuran untuk menambah pemasukannya. Tapi jika praktek ini terbongkar maka yang akan terjadi adalah seperti kisah Hatsuoki diatas. Ia akan segera jatuh hina dan pelanggannya tidak akan sudi memakainya jasanya lagi.
Drama klasik memang selalu punya pesona tersendiri bagiku . Baik itu kisah dari Eropa, maupun Asia. Tradisi dan kisahnya yang jauh dari hiruk pikuk teknologi selalu mempunyai nilai dan pengetahuan tersendiri tentang esensi kehidupan. Itulah mengapa novel favoritku didominasi drama klsik. Seperti Memoirs of Geisha dan trilogy Emily of New Moon.
Saat aku kuliah dulu, dalam mata kuliah bahasa Inggris dosenku mengadakan discussion class setiap pertemuan sebelum memulai materi pelajaran, dengan topik yang sudah ditentukan setiap minggunya. Satu kali kami membahas tentang film. Setiap mahasiswa di kelas harus menyediakan jawaban dari pertanyaan ini, “ Apa genre film favoritmu dan berikan alasannya.” Saat giliranku tiba aku menjawab begini ” My favorite movie is drama and animation. Drama tells us about life and animation makes us laugh.” (Smart answer, isn’t it? ;p)
Bicara tentang Memoirs of Geisha , walau sudah membaca untuk keempat kalinya tak menutup kemungkinan aku akan mengulanginya lagi. Karena banyak sekali pelajaran baik isi maupun teknik penulisan yang bisa membantu pelatihan penulisanku nanti. Love it. By the way what about U? Do U like it too?
Entry Filed under: Warna-Warni
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed