Dont Underestimate The Thing That I Will Do
Akhir-akhir ini waktu sangat berharga, every minute counts, tapi untuk meringankan beban di dada kusempatkan membuat tulisan ini.
Hampir dua belas tahun bekerja baru kali ini aku benar-benar bahagia dengan apa yang kulakukan. Tugas baru membuatku sangat bergairah, karena sangat sesuai dengan minat dan jiwaku. Jika ada waktu senggang baik di kantor maupun di rumah kumanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemampuan itu. Berbagai literatur kukumpulkan dan kubaca. Atasan ku yang baik hati dan sangat kukagumi, membanjiriku dengan pujian. Bahkan kesempatan yang bahkan sebelumnya tak pernah hadir di mimpiku yang paling liarpun ditawarkan didepan mataku. Whenever you ready, we’ll send you abroad, begitulah kira-kira yang dikatakan atasanku dan bos besar.
Serasa berada di puncak dunia. Aku merasa sangat pintar dan spesial. Tapi pagi ini kebanggaanku terluka. Berawal dari obrolan dengan teman di bagian lain. Ia berkata kalau dia tidak mengerti kalau diajak bicara tentang pekerjaannya, pengetahuannya hanya sebatas rutinitasnya saja. Lalu temanku yang lain, yang bertugas satu divisi denganku tiba-tiba berkomentar. “Ya itu sama dengan Mba Dewi diajak ngomong tentang ilmu X (ilmu yang terkait dengan tugasku sekarang).” Ironisnya disaat dadaku sedang membusung dengan prestasiku, dia malah mengecilkan kemampuanku. Jangankan diperhitungkan bahkan untuk diajak berbicara tentang ilmu itu saja aku belum layak menurutnya.
Aku berusaha memaklumi bahwa dia tidak mengetahui perkembanganku tapi tetap saja rasa sakit itu belum hilang. Terasa berat dan membuat sesak. Well semoga rasa sakit karena ucapannya menjadi cambuk semangatku, katalisator kemajuanku. Well no pain no gain right?
Don’t underestimate the thing that I will do (Adelle-Rolling In The Deep)
Add a comment Oktober 25, 2011
How To Tell Him
Bagianku mendapat tambahan orang baru. Biasanya kalau mendapat tambahan tenaga akan disambut suka cita, para kepala seksi terutama. Tapi bagiku ga selalu begitu. Karena keterbatasan meja dan komputer, aku selalu bingung jika ada datang penghuni baru. Ujung-ujungnya aku yang pusing ngurusinya.
Seperti sekarang ini. Dalam dua minggu kedatangan tiga pegawai baru.Setelah sedikit maksa akhirnya masalah pun terselesaikan (untuk sementara). But unfortunately its not the only problem. Salah seorang newbie yang mengambil tempat tak jauh dari tempatku tampaknya memiliki masalah bau badan.
Dari jarak 10 meter aromanya sudah tercium. Dohh.. jadi kepikiran macem-macem. Maksudnya kepikiran ngirim pesan kaleng tentang BB nya, atau ngasih hadiah penghilanng BB, sampe mikir pindah tempat.
Tapi semakin sore baunya dah ga gitu nganggu lagi mungkin karena hidungku sudah beradaptasi. Tapi bagaimana dengan besok-besok? Bagaimana baiknya ya cara memberitahunya tanpa membuat orangnya tersinggung?
Satu lagi, semoga dia tak pernah membaca tulisan ini.
Add a comment Agustus 2, 2011
Sayang, Aku Pake Maskara Lohh..
Pakaianku terlihat biasa, hanya celana panjang dengan atasan batik. Jilbabnya pun jilbab lama, dipilih semata-mata karena warnanya serasi dengan atasan. Supaya penampilanku dikondangan nanti memberikan “sedikit” kesan berbeda, kutambahkan sentuhan kecil pada riasan wajah, terlalu berlebihan sebenarnya jika disebut riasan karena yang kulakukan hanya memakai bedak compact dan lipbalm saja. Jadi kuputuskan mamakai mascara untuk memperindah bulu mata. Mascara mahal yang isinya sangat sedikit itu sudah lama jadi koleksi di lemari tapi sangat jarang di pakai.
Hasilnya memang dramatis. Mataku lebih indah seperti mengenakan bulu mata palsu. Lalu dengan bangga, kupamerkan hasilnya pada suamiku.
“Liat deh Yang?” kupaksa dia menatapku, dan dia memperhatikan beberapa saat lamanya.
“Apa?” tanyanya balik.
“Masak sih ga tau?”
‘Enggak, apaan sih?”
‘Kamu ga liat sesuatu yang beda apa?”
Dia memperhatikan lebih seksama, “Bedakmu lebih tebal.”
Lho??
“Bukan itu Sayang, liat lagi deh”
“Mmm… kamu pake lipsttik.”
Aku mulai gregetan “Yah.. gimana sih. Masa ga tau, bukan itu.”
Untuk yang kesekian kali dia memperhatikan wajahku, namun kali ini pandangannya tidak berputar-putar di seluruh wajah seperti tadi hanya fokus di bagian mataku.. Aku yakin kali ini dia bisa melihat sesuatu yang tak biasa.
“Ooo…” katanya yakin sambil mengangguk pasti,” Kamu pake softlense.”
#@$#$@%^*&#.
Add a comment Juni 6, 2011
Kaitkata: bulu mata, kondangan, maskara, rias
I Should Be Happy But..
That’s weird because I should be happy but I’m Sad.
Aku : Hallo, Apa kabar?
Dia : Sehat. Kok hapemu ga bisa dihubungi ya?
Aku : Aktif kok, sms mu juga nyampe
Dia : Oh kirain ga nyampe soalnya ga telpon ke sini.
Aku : Gimana anakmu? Siapa namanya.
Dia : Rifa
Pembicaraanpun mengalir ke pertanyaan standar untuk orang yang baru melahirkan. Dan sepanjang pembicaraan aku tak begitu bersemangat. Menutupi perasaan yang sebenarnya agar sinyalnya tak tertangkap telinganya.
Aneh memang, saat kakakku melahirkan anak pertamanya aku sangat antusias tapi giliran adikku aku merasakan yang sebaliknya. Mungkin di sana mereka bingung mengapa aku terkesan tak peduli padahal Kakakku setiap hari menanyakan kabarnya bahkan sampai berniat pulang kampung hanya untuk menjenguk keponakannya.
Yeah, its weird and complicated. I’m sorry Sis. Still, I can’t do what I should do or feel what I should fell because I have to deal with this pain first.
Add a comment Mei 30, 2011
Kaitkata: feeling, have, i, just, the
No Place Like Home
Aku sering merasa heran mengapa film yang laris di pasaran itu kebanyakan ceritanya cenderung dangkal, Spiderman dan Wolverine misalnya, dan mengapa film yang berkisah tentang kehidupan yang mengaduk-aduk emosi, setidaknya untukku, gaungnya lemah sekali seperti film The Pursuit of Happiness atau No Place Like Home yang baru kutonton semalam.
Tapi komentar yang sering kudengar begini, “Nonton itu kan buat cari hiburan, ngapain nonton yang berat-berat.” Masalahnya dalam hal ku cerita dangkal tak memberikan hiburan sama sekali malah sangat membosankan. Makanya saat nonton Spiderman mataku terkantuk-kantuk walaupun efeknya yang ditawarkan luar biasa.
Sedangkan cerita drama lebih memberikan dari sekedar hiburan. Kisah kehidupan memberikan wawasan lain yang sebelumnya luput dari perhatian, yang ujung-ujungnya menanamkan empati kepada orang-orang yang berada pada situasi sulit seperti yang diceritakan di film itu. Jadi beberpa hari setelah monontonpun kisah film itu selalu menyita fikiran dan perasaanku.
No Place Like Home yang dibintangi Jeff Daniels misalnya, setelah menonton dengan beberapa kali meneteskan air mata, tapi kisahnya sama sekali ga cengeng loh, aku jadi memikirkan nasib orang-orang yang tuna wisma, terlebih jika mereka memiliki anak. Bahkan untuk menyediakan tempat berlindung bagi keluarganya saja yang merupakan kebutuhan dasar manusia merupakan perjuangan berat yang harus dijalani setiap hari. Belum lagi ancaman keselamatan dari berbagai arah yang membahayakan kehormatan dan nyawa mereka.
Pelajaran lain, bahwa sangat penting bagi orang tua untuk mengendalikan emosi di depan anak-anaknya betapapun sulitnya keadaan. Karena teriakan frustasi dan kemarahan di depan anak-anak bisa meninggalkan bekas yang dalam di sanubari mereka.
Anehnya cerita seru yang sarat akan pembelajaran hidup tersebut hanya mendapat nilai 6,7 dan 10 di satu polling internet. I just don’t get it, Come on people? What going on with you?
Add a comment Mei 2, 2011
Bekal Untuk Cinta
Setelah baca bagian akhir tulisan Om Iyan di blognya yang judulnya Bekal, aku jadi terharu sekaligus tergerak nulis tentang bekal juga.
Kalo Om Iyan dijuluki sebagai SS (suami sehat) di kantor aku juga mendapat julukan yang identik karena terlalu memperhatikan kesehatan. Jadi mendapat olok-olokan dari teman dan atasan di kantor itu udah biasa. Misalnya, menu sarapan dan suamiku yang paling sering adalah oatmeal. Maka temanku menyelutuk, “Makanan burung kok dimakan Mba?”
Atau sewaktu makan buah yang didinginkan dengan es balok yang sebenarnya untuk mengawetkan ikan, dan tidak layak makan karena dari satu acara investigasi di tv nasional yang menelusuri asal usul air yang jadi bahan utama pembuat es balok adalah air yang jauh dari kategori higienis. Kalo di daerah jabodetabek air itu berasal dari kali Ciliwung yang dijernihkan dengan beberapa bahan kimia, kemudian setelah jernih baru dibekukan. Penelitian hasil lab juga mendukung, bahwa es balok tersebut banyak mengandung kuman yang berasal dari maaf…kotoran manusia. Jadi sebelum dimakan buah itu kucuci terlebih dahulu. Dan melihat itu orang-orang disekitar yang tidak mengerti alasannya mengeluarkan komentar yang yah..katakanlah sedikit mengejek atau sinis. “Ya ampunn segitunya..”
Kembali ke masalah bekal. Masih kaitannya dengan kesehatan maka aku berkomitmen untuk membuat bekal untukku dan suami setiap harinya. Tapi ga setiap hari juga sih, kalau lagi malas masak (tapi ini jarang loh
) atau ga ada bahan untuk dimasak karena ga sempat belanja, kita makan di luar.
Alasannya tentu sehat dan hemat. Bayangkan sebelum dimasak bahan makanan di ozonisasi dulu untuk menghilangkan kandungan zat kimia dan bakteri berbahaya. Cara memasak dengan menggoreng pun sebisa mungkin dihindari. Untuk minyak juga ada aturannya sendiri. Di rumah ada 3 macam minyak untuk keperluan memasak. Pertama minyak zaitun, canola, dan terakhir minyak sawit. Minyak zaitun dan canola di pakai lebih sering untuk tumis dan menggoreng masakan yang tidak perlu banyak minyak misalnya telur, sedangkan minyak sawit jarang digunakan dan biasanya hanya untuk menggoreng yang butuh banyak minyak seperti, menggoreng ayam. Dan cara menggoreng makanan yang mengandung karbohidrat, bakwan misalnya, juga punya teknik tersendiri. Jadi ga mungkinkan standar memasakku itu bisa dipenuhi warung makan, atau bahkan restoran sekalipun?
Dari awal menikah aku sudah mulai membawa bekal dari rumah. Mungkin karena masakanku belum sempurna atau suami yang tidak biasa makan masakan tanpa penyedap dia sering mengabaikan masakanku. Sebagai gantinya ia beli makan di luar atau tidak makan sama sekali. Tentu saja ulahnya itu membuatku tersinggung.
Bayangkan sebelum belanja aku sudah harus memikirkan menu apa yang akan dimasak dalam seminggu, lalu belanja dengan memilih bahan yang berkualitas yang tentu saja harganya lebih mahal, setelah itu bangun pagi-pagi setiap harinya, antara jam 4 sampai jam 5 pagi, lalu berjibaku sendiri di depan kompor. Jadi kalau suami tidak mau makan hanya karena tidak selera, hatiku sangat sedih sekaligus marah. Namun seiring berjalannya waktu hal itu bisa dibilang hampir (hampir loh ya) tak pernah terjadi lagi.
Ada kepuasan yang tak terkatakan jika setiap pagi bisa menyediakan sarapan dan menyiapkan bekal makan siang untuk suami tercinta. Apa lagi jika dia menyukainya. Jangan ditanya, rasanya ruarrr biasa.
By the way, mengenai paragraf terakhir di artikel Om Iyan di awal tulisan, paragraf yang membuat haru itu saya cuplik di sini, semoga saja si Om tidak keberatan.
Tak bisa membalas dengan hal lain, hanya kata terima kasih untuk kalian kaum perempuan yang senantiasa menyiapkan sarapan pagi untuk para suami ketika akan berangkat kerja.
2 komentar April 20, 2011
RESIGN
Setumpuk map berisi berkas-berkas “dibuang sayang” yang setiap hari semakin tinggi, teronggok di ujung meja. Diwi menyebutnya dibuang sayang karena sebenarnya kertas itu tak berguna lagi, tapi keadaannya masih baik, dan mungkin bisa berguna satu waktu. Sementara di meja lain yang ukurannya lebih kecil, yang letaknya membentuk huruf L dengan meja utama, amplop-amplop sejenis memenuhi box file dengan susunan yang berantakan. Diwi tak begitu mempedulikan ketidakrapihan di mejanya. Pandangangannya terpaku pada bebapa surat dengan status KILAT, surat-surat itu baru datang pagi tadi. Ia mendengus kesal seakan hendak mengeluarkan gumpalan besar di kerogkongannya.
Hari ini ia sudah minta ijin ke dokter dan kemarin sore atasannya sudah mengijinkannya tapi langsung berubah pikiran pagi tadi. Pak Harno, atasannya, meminta Diwi mengundurkan waktu janji temu dengan dokternya karena ada masalah yang harus diselesaikan hari itu juga.
“Ini Kilat Wi,” katanya , “ Urgent !!”
Ya. Pekerjaan itu memang penting dan urgent, tapi banyak orang selain dia yang bisa menyelesaikan tugas itu. Sedangkan janji temu dengan dokter juga penting dan urgent baginya. Jika hari ini dibatalkan maka baru bisa mengatur pertemuan pada bulan berikutnya. Karena dokter langganannya itu akan ke luar negri selama sebulan untuk mengikuti seminar.
Dengan wajah tertekuk yang sangat tidak enak untuk dilihat Diwi menuruti juga permintaan itu. Selama itu tak sedikitpun ia berbicara kepada siapapun. Menjadi orang yang dipercaya atasan tidak selalu menyenangkan dan mendatangkan keuntungan. Contohnya hari ini. Dan ini bukan kejadian yang pertama kali. Beberapa bulan sebelumnya Pak Harno tak mengijinkannya ikut pelatihan yang sejak lama ia incar. Pelatihan itu sangat berguna untuk peningkatan karirnya. Dengan beberapa terman kerja, ia sudah mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya, sayangnya karena pada saat yang bersamaan dengan diselenggarakannya pelatihan itu perusahaan kedatangan klien penting dan Pak Harno, memintanya untuk menemaninya bertemu tamu penting perusahaan itu. Sedangkan teman-temannya melenggang dengan santai meninggalkannya bersama setumpuk tugas rutin.
Ketergantungan pada apapun, kecuali pada Tuhan tentunya, tidak sehat. Dalam halnya, Pak Harno sudah terlalu tergantung pada hasil kerjanya. Alasannya hanya hasil kerja Diwi yang bisa memuaskan standar perfeksionisnya. Hampir semua proyek yang strategis diserahkan pada Diwi. Sedangkan ia tahu benar, banyak teman lain yang kekurangan pekerjaan.sebagian dari mereka mereka memakai kelebihan waktu kerjanya untuk bergosip atau main game, tapi bagi sebagian lain tidak begitu karena jarang diberi tanggung jawab yang berarti, mereka merasa tersisih. Bagi kelompok pertama, selama penghasilan mereka tak berkurang tak ada yang perlu dipermasalahkan bahkan bisa dibilang mereka menikmati keadaan itu. Tapi bagi kelompok kedua, tak bisa dielakkan, Kiki dianggap faktor yang membuat mereka tersisih dan secara tak sadar aroma kebencian mulai tercium dimana-mana.
Apresiasi dari Pah Harno itu memang melimpah. Bukan sekali dua lelaki tua dan galak itu memujinya di forum resmi yang membuat pipinya merona. tapi bersamaan dengan itu diam-diam pasukan sakit hari tersenyum sinis. Berbagai hadiah mahal yang diberikan padanya setiap Pak Harno berpergian ke luar negri bahkan bonus-bonus dari success fee Tapi semua keistimewaan itu punya harga yang mahal. Lembur yang tak kenal waktu hingga tak ada waktu yang terluang untuk menjalin hubungan serius dengan lawan jenis.
Beberapa tahun lalu, sebelum Pak Harno menjadi bosnya, hidupnya masih normal. Setiap minggu ia punya waktu untuk berkencan dengan Dion, kekasihnya. Tapi setelah Pak Harno menggantikan bos lamanya kehidupannya berubah drastis. Pertemuan dengan Dion hanya bisa dijadwalkan sebulan sekali itupun sering di cancel karena lembur mendadak. Perlahan namun pasti ia dan Dion menjauh sampai satu waktu kekasihnya itu berhenti menghubunginya. Dua atau tiga bulan setelahnya ia mendengar berita pertunangan Dion dengan wanita lain.
Hatinya benar-benar hancur saat itu dan untuk melupakan Dion ia mengalihkan seluruh energi dan pikirannya dengan kerja tak kenal waktu. Hingga pada satu titik ia merasa jenuh, lelah, dan putus asa jika memikirkan masa depannya.Ibunya di kampung selalu mengingatkannya untuk menikah. “Ingat umur Wi”, itu yang sering dikatakannya. Setiap mereka berbicara ibunya tak pernah ketinggalan mengabarkan keadaan teman-teman sekolahnya dulu. Si Tini dan punya anak dua, atau si Erna akan menikah bulan depan. Sayangnya ibu tak sadar berita-berita seperti itu membuatnya semakin tertekan.
Di lain hal, semakin lama ia semakin sesak nafas jika segala hal tergantung padanya hingga mengekspansi urusan pribadinya. Anehnya Pak Harno merasa wajar jika Diwi yang punya batas kemampuan diserahi tanggung jawab yang hampir tak bisa ditanganinya.
Tiba-tiba sesuatu terlilntas di pikirannya. Segera ia mencari file yang berminggu-minggu lalu pernah dibuatnya. File itu masih berupa draft kasar yang dibuat karena iseng saja. Tapi sekarang file itu mulai dianggapnya serius.
“Ini dia” gumamnya. Sebelum membuka ia menoleh ke sekitar, memastikan tak ada orang yang memperhatikannya. Merasa aman segera dibukanya dokumen yang bernama RESIGN.
Add a comment April 12, 2011
Kaitkata: latihan nulis
Just Pray For Me Please..
Siang ini aku chatting via Gtalk, dengan seorang teman lama. Seorang teman yang selalu menyapa dan menanyakan kabarku. Kadang aku malu juga karena hampir tak pernah menyapanya duluan.
Setelah berbasa-basi ia menceritakan tentang temannya yang sukses punya momongan karena melaksanakan anjuran dokternya, Aku tahu sekali bahwa dia bermaksud baik menanyakan perkembanganku dan menginfokan tips yang berhasil pada temannya dan mungkin maksudnya tips itu berhasil buatku juga. Mungkin ya tapi mungkin juga tidak. Karena tidak semua kasus sama.
Seperti halku misalnya, yang bermasalah pada saluran kedua tuba falopi. Jika di anjurkan berhubungan dengan frekuensi tertentu dan herbal penyubur apakah ada pengaruhnya? Sesubur apapun kalo saluran belum kebuka ya sama saja. Ada juga teman lama yang entah berapa kali menyarankan supaya aku berobat kepada ayahnya yang notabene orang pintar. Astaghfirullah.. aku tidak seputus asa itu untuk menempuh jalan yang tidak diridhoi-Nya.
Tapi ada hal lain yang sebenarnya agak mengganggu. Pertanyaan mengenai masalahku yang belum punya momongan, walau sehalus atau sesopan apapun pertanyaan itu disampaikan tetap saja membuat galau. Ya..ya.. mereka bermaksud baik. Itu pasti. Hanya saja maksud baik mereka itu memperburuk suasana hati. Membahas masalah yang sensitif kepada sembarang orang membuatku frustasi. Jangankan ditanya langsung melihat teman lain hamil saja aku sudah merasa tak enak hati. Dan bawaannya pengen pergi sejauh-jauhnya dari orang itu, hingga perutnya yang melendung hilang dari pandanganku.
Hasad a.k.a dengki menurut Imam Ghozali banyak bentuknya. Salah satu dari banyak cirinya itu adalah tidak senang orang lain mendapat nikmat yang juga diinginkannya. Persis seperti perasaanku melihat orang lain yang mendapat keturunan dengan mudahnya. Aku tak mau digolongkan manusia pendengki, hanya saja sisi manusiaku yang pragmatis belum mampu mengatasinya.
Dengki itu memang manusiawi., tak ada satupun manusia yang terbebas dari dengki. Tapi selama dengki itu tidak bertranformasi menjadi perbuatan atau ucapan yang menyakiti atau merugikan orang lain, maka kedengkian itu masih bisa dimaafkan. Setidaknya begitulah yang kubaca dalam sebuah hadist.
Ah, mungkin dibalik itu semua, perasaanku yang terlalu sensitive. But I’m boring to explain to many people about my issue. Just pray for me, pliss .
2 komentar April 4, 2011
Kaitkata: anak, hamil
Mengabadikan Momen Spesial
Dari kemaren aku membaca postingan-postingan lama di blog. Ternyata asyik juga membaca artikel-artikel lama itu.
Tapi saat membacanya seringkali tulisan itu terasa asing. Seolah bukan aku tapi orang lain yang menuliskannya. Kadang juga aku mengerutkan kening, mengingat kembali beberapa peristiwa yang sama sekali sudah kulupakan.
Ternyata mengabadikan suatu peristiwa melalui tulisan itu bermanfaat juga. Karena dengan menuliskannya semua perasaan dan detil peristiwa penting terekam. So, satu saat bisa mengenang kembali moment penting dalam hidup dan mungkin bisa jadi sarana untuk intropeksi diri. But beside that, it’s fun!
After this I promise to write down the special moments in my life as many as possible , wether it’s good or bad.
2 komentar Maret 31, 2011
Kaitkata: blog, momen, spesial, tulisan
Memoirs Of A Geisha
Aku sedang membaca buku Memoirs Of Geisha untuk yang ketiga atau keempat kalinya. Mungkin ada pertanyaan mengapa aku membaca buku yang sama sampai berkali-kali. Jawabannya karena buku itu sangat mempesona, baik dari segi materi maupun penyampaiannya. Setiap aku membaca ulang buku itu, aku masih saja terpukau dengan kisahnya.
Arthur Golden adalah seorang jenius yang membius pembacanya. Luar biasa cara penulisannya, sederhana tapi penuh dengan analogi yang indah. Ia menuliskan sebuah memoir seorang geisha bermata indah bernama Sayuri. Di bagian pengantar buku itu dikatakan bahwa kisah ini seperti biographi dengan kata lain ceritanya berdasarkan kisah nyata. Tapi di forum internet banyak yang meragukan kalau kisah itu benar-benar based on true story. Terlepas dari apakah nyata atau fiksi, bagiku kisah itu tetap sangat luar biasa.
Sebelumnya sejak lama telingaku akrab dengan judul novel ini, tapi perkenalan pertamaku saat menonton filmya dengan judul yang sama. Membaca novel dengan menonton film adalah hal yang berbeda. Banyak sekali hal-hal yang terdapat di novel tak bisa di terjemahkan dalam film dengan baik. Itulah mengapa seringkali kita merasa kecewa jika versi film gagal memberikan kesan sebaik cerita novelnya. Begitu juga dengan Memoir of Geisha. Walau sudah menyaksikan filmnya aku tetap tidak mengerti apa sebenarnya profesi geisha itu, juga tidak memahami tentang tradisinya yang luar biasa eksotik. Anggapanku geisha tetaplah seorang pelacur yang mempunya stutus sosial lebih tinggi dari pelacur biasa di mana kehidupannya hanya berkisar ranjang saja.
Setelah membaca novelnya aku baru mengerti anggapanku selama ini ternyata 80% SALAH. Kalau sudah pernah membaca novelnya pasti tahu apa yang kumaksudkan.
Geisha adalah seniman wanita. Profesi mereka menghibur tapi bukan menjual tubuh melainkan menjual kelihaian seni seperti menari dan memainkan shamisen (gitar Jepang). Kedudukan mereka menempati tempat yang terhormat dalam tradisi Jepang. Mereka tidak diperbolehkan berbuat seperti pelacur yang menyerahkan diri kepada sembarang orang yang bersedia membayarnya. Justru jika mereka melakukan hal yang demikian sama saja dengan membahayakan karirnya. Seperti kisah Hastsuoki yang di singgung sedikit dalam novel tersebut. Sebenarnya Hatsuoki tidak melakukan hal yang salah. Ia hanya menjadi korban kedengkian Hatsumomo, saudara seperguruannya. Hatsumomo menganggap Hatsuoki saingan berat, oleh karena itulah ia menyingkirkannya dengan cara keji. Dengan menyebarkan desas-desus kalau Hatsuoki berbuat tidak senonoh dengan seorang polisi muda. Sayangnya orang-orang termakan dengan isu itu. Reputasi Hatsuoki yang malang pun hancur dan karirnya sebagai geisha terpaksa berakhir.
Geisha hanya diperkenankan melakukan hubungan seksual dengan dua macam pria. Pertama pelanggan mizuake (orang yang membeli keperawanannya). Kedua adalah danna, semacam suami kontrak. Untuk menjaga reputasinya seorang Geisha kelas atas tidak akan memiliki banyak danna selama hidupnya. Ia hanya memiliki satu atau dua danna. Sedangkan geisha yang kelasnya lebih rendah tidak demikian. Ada juga praktek gelap yang yang dilakukan geisha kelas bawah yaitu praktek pelacuran untuk menambah pemasukannya. Tapi jika praktek ini terbongkar maka yang akan terjadi adalah seperti kisah Hatsuoki diatas. Ia akan segera jatuh hina dan pelanggannya tidak akan sudi memakainya jasanya lagi.
Drama klasik memang selalu punya pesona tersendiri bagiku . Baik itu kisah dari Eropa, maupun Asia. Tradisi dan kisahnya yang jauh dari hiruk pikuk teknologi selalu mempunyai nilai dan pengetahuan tersendiri tentang esensi kehidupan. Itulah mengapa novel favoritku didominasi drama klsik. Seperti Memoirs of Geisha dan trilogy Emily of New Moon.
Saat aku kuliah dulu, dalam mata kuliah bahasa Inggris dosenku mengadakan discussion class setiap pertemuan sebelum memulai materi pelajaran, dengan topik yang sudah ditentukan setiap minggunya. Satu kali kami membahas tentang film. Setiap mahasiswa di kelas harus menyediakan jawaban dari pertanyaan ini, “ Apa genre film favoritmu dan berikan alasannya.” Saat giliranku tiba aku menjawab begini ” My favorite movie is drama and animation. Drama tells us about life and animation makes us laugh.” (Smart answer, isn’t it? ;p)
Bicara tentang Memoirs of Geisha , walau sudah membaca untuk keempat kalinya tak menutup kemungkinan aku akan mengulanginya lagi. Karena banyak sekali pelajaran baik isi maupun teknik penulisan yang bisa membantu pelatihan penulisanku nanti. Love it. By the way what about U? Do U like it too?
Add a comment Maret 29, 2011